Solilokui Nana – Kempalan.com

KEMPALAN: Setidaknya saat ini ia perempuan Indonesia paling dikenal luas. Jika survei dibuat, siapa perempuan Indonesia paling populer, bisa jadi Nana akan mengungguli Puan Maharani, Ketua DPR-RI yang juga salah satu Ketua PDIP.

Nana nama kecilnya, biasa ia dipanggil rekan-rekannya. Nana nama kecil Najwa Shihab, putri Prof Quraish Shihab–pakar tafsir Indonesia utama–nama kecilnya Nana selalu menghias, seperti panggilan tidak berjarak.

Mengawali debut di Metro TV. Diawal televisi berita itu mengudara, Nana salah satu pembaca berita yang diandalkan. Perjalanan karirnya, tidak dicukupkan sampai disitu, perlu dihadirkan talkshow, acara menyoroti apa saja yang berbau ketimpangan; politik, sosial, ekonomi dan seterusnya.

Talkshow itu muncul, setelah ia ditempa selama 10 tahun sebagai penyampai berita (news anchor). Talkshow dengan memakai namanya, Mata Najwa. Sebuah penghargaan atas kerja jurnalistiknya.

Mata Najwa tentu bukan sekadar simbol mata elok, yang dimiliki Nana. Bukan makna fisik. Mata Najwa lebih pada sorot atau pandangan kritis akan suatu persoalan. Maka, Mata Najwa tampil mengkritisi kebijakan yang timpang dan ketidakadilan yang dipertontonkan.

Mata Najwa seolah jadi tempat “keadilan” dihadirkan. Nana membawa acara itu dengan gaya mencecar nara sumber yang diundangnya dengan tanpa ampun. Tidak perduli menteri sekalipun, jadi bulan-bulanan “dihajarnya” dengan pertanyaan menghunjam.

Tapi sayang, Mata Najwa Metro TV cuma dicukupkan hanya sekitar 7 tahun (2009-2017). Diakhiri dengan “wawancara eksklusif bersama Novel Baswedan”. Nana perlu mewancarai Novel disebuah Rumah Sakit Singapura, dalam kasus penyiraman air keras yang menyebabkan kerusakan permanen pada sebelah matanya.

Kasus Novel saat itu jadi berita nasional yang menghebohkan, yang seperti media televisi pun enggan memberitakan. Tekanan politiknya tinggi. Nana, seperti kabar yang muncul, “dilarang” melakukan wawancara dengan Novel. Tapi khas Nana yang pantang “dilarang” untuk hal yang diyakininya mesti dilakukan. Ia “melawan” dengan tetap berangkat ke Singapura melakukan wawancara eksklusifnya.

Baca Juga :   Dapatkan akses eksklusif ke interview, panduan bermain dan lainnya melalui ONE Esports app untuk Samsung

Nana melawan “penjegalan” atas kerja jurnalistiknya, yang bisa jadi akan terus diterima pada waktu-waktu berikutnya, lalu memilih jalan win-win solution mundur dari Mata Najwa. Sikap kerasnya pada pendapat yang diyakini berbuah ia mesti meninggalkan Metro TV, media yang mengasah mendewasakan kerja jurnalistiknya.

Berkegiatan Nana setelah itu tidak lalu surut, meski Mata Najwa diakhiri. Ia tetap melakukan kerja-kerja jurnalistik dengan media lain, tidak berhenti. Dengan media yang berbeda, yakni media sosial–diunggah melalui lini media Youtube hingga Facebook–ia memunculkan program “Catatan Najwa”.

Setelah itu Mata Najwa hadir lagi di Trans 7, sejak 2018 hingga kini. Tidak persis tahu Nana dipinang atau melamar. Tapi yang jelas, seperti ada perjanjian, bahwa Nana tidak bisa dicegah untuk mengangkat berita dengan nilai politis sekeras apapun. Dan, memang seperti yang kita lihat, Mata Najwa tampil lebih “berani”, lebih nendang keras.

Tidak dicukupkan di situ, Nana pun masih perlu mengekspresikan “keliaran” pikiran dengan tampil lewat video singkat yang dibuatnya. Tidak cukup seperti biasanya, yang cuma ia duduk lalu berbicara, tapi perlu sambil berjalan-jalan layaknya solilokui di pentas pertunjukan. Solilokui Nana sudah dimulai, seperti jadi medianya untuk ekspresi diri melihat apa yang dilihatnya tidak sepatutnya, lalu menghantamnya.

Nana bicara dengan narasi yang tegas bahkan cenderung keras, dengan diksi dan intonasi tetap terjaga, tapi khas Nana yang keras menghunjam. Kehidupan hedonis polisi dan keluarganya hari-hari ini–setelah kasus Ferdy Sambo menyeruak–dimana orang lain menghindar bicara sekerasnya, dihantamnya habis-habisan. Jadi bahan solilokui Nana di pentasnya.

Solilokui Nana seperti cara ia mengekspresikan kesuntukan melihat persoalan negeri yang sengkarut pada persoalan sosial dan politik tak seharusnya. Pilihan kenekatannya, itu seperti tak berjarak dengan resiko yang akan dihadapi, sungguh membuat miris.

Baca Juga :   Lagi Rame, Kenapa PHK Bisa Terjadi?

Di negeri dengan penegakan hukum yang tak menentu, Nana dengan media jurnalistik yang dipilihnya, apapun itu, seperti terus dinanti, meski dengan rasa was-was, harap-harap cemas.

Solilokui Nana jadi seperti dramaturgi monoplay di panggung-panggung pertunjukan. Mengasyikkan melihat gerak tubuhnya yang jalan ke sana kemari, yang dibalut dengan narasi tanpa basa-basi, lugas menghunjam.

Semoga Tuhan terus menjaganya. Sebab bisa jadi tangan-tangan jahat yang tak menyukai pilihan keterusterangan yang dihadirkan, itu akan gelap mata memilih jalan licik untuk “membungkamnya”. Semoga saja tidak, agar kita bisa terus melihat Nana berekspresi dengan model jurnalistik lain yang dibuatnya. (*)


Artikel ini bersumber dari : kempalan.com.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari GajiPekerja.com di Google News

  • Tinggalkan komentar