GajiPekerja.com

Informasi Gaji Pekerja Indonesia!

4 Oktober 2022

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Pekerja mengupas kulit ari kelapa di PT Pacific Easten Coconut Utama (PT PECU) di Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Kamis (10/8/2022). Beberapa produk turunan yang di hasilkan telah di ekspor ke 37 negara yaitu kelapa parut kering, tepung kelapa, santan dan minuman air kelapa. PT PECU menyerap 750 karyawan dari Pangandaran dan sekitarnya.

Kelapa Pangandaran tidak bisa dipandang sebelah mata. Produk olahannya menjelajahi belahan dunia. Petaninya kini bergairah “memanjat” sejahtera.

Tanpa alas kaki, Helmi (60) berjalan ke kebun kelapa di samping rumahnya di Parigi, Pangandaran, Rabu (10/8/2022). Cepat, dia mulai memanjat setelah menentukan pohon yang buahnya akan dipetik. “Pohon ini buahnya bagus. Satu tandan lebih dari 10 butir,” ujarnya.

Tidak sampai dua menit, tangan kekar kakek empat cucu meraih buah kelapa di atas pohon setinggi 20 meter itu. Ia menebas tandan kelapa dengan parang. Belasan kelapa jatuh ke tanah.

Pangandaran adalah sentra kelapa Jabar. Data Dinas Perkebunan Jabar tahun 2022 menyebutkan, luas lahannya 25.266 hektar atau sekitar 15 persen dari total luas Pangandaran sebesar 168.000 hektar. Produksinya 13.148 ton per tahun. Ribuan orang bergantung hidup padanya, termasuk Helmi.

Baca juga: Tangguhnya Perempuan Hanjeli dari Jabar Selatan

Ajang Cycling de Jabar 2022, 27-28 Agustus merekam hal itu. Acara bersepeda hasil kerjasama Pemerintah Provinsi Jabar, bank bjb, dan Harian Kompas ini menempuh jarak 367,5 kilometer, dari Ciletuh hingga Pangandaran.

Hingga kini, sudah lebih dari 40 tahun, Helmi hidup bersama kelapa. Saat tsunami 2006, ia lolos dari maut karena meraih batang kelapa dan memanjatnya. Kini, buah kelapa terus menghidupi keluarganya.

Atas dasar itu juga Helmi memilih menjadi petani organik. Pohon kelapanya subur lewat pupuk kandang. Hasilya, ia mampu memanen 1.500 – 3.000 butir dalam sebulan, dari tiga lokasi kebun seluas 3.150 meter persegi.

Kelapa hijau di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Rabu (10/8/2022).
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Kelapa hijau di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Rabu (10/8/2022).

Pilihan bertani organik membawanya bertemu PT Pacific Eastern Coconut Utama (PECU). Sejak tiga tahun lalu, dia bagian dari 1.251 petani mitra produsen produk olahan kelapa, seperti kelapa parut kering, tepung kelapa, santan asli, dan minuman air kelapa dalam kemasan, itu. Kelapa organik di atas seluas 812,42 hektar di Pangandaran itu ditujukan untuk pasar ekspor.

Kemitraan itu sejauh ini menguntungkan. Pabrik itu berjarak sekitar 8,5 km dari rumah Helmi. Ia cukup membayar sewa mobil Rp 150.000 untuk membawa hasil panennya ke pabrik. Dahulu, panen kelapanya dijual ke Jakarta. Dapat Rp 2,7 juta – Rp 5,4 juta per bulan tapi ongkos ke Jakarta hingga Rp 2 juta.

“Sekarang saya bisa menabung, membangun rumah Rp 75 juta dan membantu biaya pendidikan cucu,” kata dia.

Bahagia kelapa

Pada hari yang sama, jemari Imas Suryati (41) juga cekatan mengupas kulit ari sebutir kelapa di pabrik PT PECU dalam hitungan 15 detik. Sarung tangan melindungi jempol, jari telunjuk, dan jari tengahnya yang menggenggam pisau. Dia satu dari 750 orang yang bekerja di pabrik.

Satu demi satu kelapa dikupas sebelum ke mesin khusus. Bersama 79 perempuan lainnya, Imas menyiapkan daging buah yang diterima dari petani seperti Helmy. Melalui teknologi ultra high temperature (UHT), produk itu tersebar ke 37 negara, seperti Malaysia, China, Amerika Serikat, hingga beberapa negara di Eropa. Indonesia bangga. Imas sejahtera.

Sebelumnya, ibu dua anak ini membuat gula kelapa. Bekerja hingga malam hari, penghasilannya sekitar Rp 80.000 per hari. “Di sini, masuk jam 07.00, pulang 14.00-15.00,” ujar Imas. Sehari, dia mampu mengupas 2,5-3 kuintal kelapa dengan bayaran Rp 140.000 per hari.

Baca juga: Mata Lembu hingga Kelapa Ijo, Ragam Kuliner Khas dari Jabar Selatan

Bahagia bersama kelapa juga dirasakan Uun Hunadi (53), pengepul kelapa di Cigugur, Pangandaran. Uun mengatakan, kini memperkerjakan 70 orang di lima gudang. Semuanya mengelola 40.000 butir per hari. Sebanyak 5.000-10.000 butir di antaranya dikirim ke pabrik untuk diekspor. Ukuran kelapa harus bisa digenggam dengan satu tangan seberat sekitar 9 ons.

“Ukurannya tidak sembarangan. Kami sangat menjaga kontrol kualitasnya,” kata dia. Aktivitas pemasok dan pengolahan kelapa milik rakyat sangat membantu rantai produksi lebih efisien. General Manager PT PECU Ferry Napoleon memaparkan, pihaknya bekerja sama dengan 40 pemasok kelapa, mulai dari butir kelapa hingga dagingnya untuk diproses kembali di pabrik.

Setiap pemasok, lanjut Ferry, mempekerjakan ratusan warga. Dia menaksir jumlah warga yang ikut dalam rantai pasok ini mencapai lebih dari 750 orang di Pangandaran. “Kami bisa saja mengganti tenaga kerja dengan mesin. Namun, sudah kewajiban kami berbagi rezeki dengan warga sekitar,” katanya.

Pasar dunia

PT PECU tidak sendirian berbagi sejahtera sekaligus membawa nama Jabar melanglabuana lewat kelapa. Koperasi Produsen Mitra Kelapa (KPMK) Pangandaran, sudah mengolah cocopeat dan cocofiber menjadi produk internasional sejak 2016.

Ketua KPMK Yohan Wijaya Noerahmat mengatakan, cocopeat untuk media tanaman bagi konsumen China, Jepang, dan Korea Selatan. Sedangkan cocofiber menjadi bahan baku furnitur dan jok kendaraan premium, hingga jok pesawat komersil.

Ekspor keduanya 200 ton per bulan senilai Rp 1,5 miliar. Sedikitnya 2.500 petani dan pengepul kelapa terlibat di dalamnya.

Uswan naik pohon kelapa untuk menyadap air nira dari bunga jantan pohon kelapa di Desa Kalangjaladri, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Senin (8/8/2022). Penderes tiap pagi dan sore bisa memanjat 40 pohon kelapa untuk diambil air nira kelapa yang akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan gula merah. Satu pohon kelapa dalam sehari bisa menghasilkan 1-2 liter air nira. Gula merah di jual Rp 15.000 per kilogram. Gula merah asal Pangandaran biasa dibuat bahan baku beberapa produk seperti kecap manis.
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Uswan naik pohon kelapa untuk menyadap air nira dari bunga jantan pohon kelapa di Desa Kalangjaladri, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Senin (8/8/2022). Penderes tiap pagi dan sore bisa memanjat 40 pohon kelapa untuk diambil air nira kelapa yang akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan gula merah. Satu pohon kelapa dalam sehari bisa menghasilkan 1-2 liter air nira. Gula merah di jual Rp 15.000 per kilogram. Gula merah asal Pangandaran biasa dibuat bahan baku beberapa produk seperti kecap manis.

Yohan mengatakan, meski omzet koperasi mencapai Rp 8 miliar per bulan, produksinya hanya mampu memenuhi lima persen permintaan. Bila terus digenjot, dia yakin bisa memasok kebutuhan konsumen hingga 30 persen, terutama untuk pasar Eropa.

”Eropa punya spesifikasi kualitas yang lebih tinggi. Karena itu, mereka butuh barang dengan kualitas dan jumlah yang stabil. Ini yang sedang saya upayakan dan yakinkan ke masyarakat, kami bisa memenuhinya,” tuturnya.

Kepala Dinas Perkebunan Jabar Jafar Ismail mengatakan, dukungan peningkatan produksi dari hulu ke hilir akan terus disiapkan. Salah satunya peremajaan pohon kelapa akan dilakukan.

Tahun ini, ada 280 hektar lahan kelapa di Pangandaran yang akan diremajakan. Rata-rata usia peremajaan untuk kelapa berusia di atas 30 tahun. Adapun, panen ideal mencapai 2-3 ton per hektar per tahun.

Seperti kelapa yang memiliki ratusan produk turunan, banyak pihak di Pangandaran terlibat membuatnya ternama. Bersama kelapa, mereka memanjat sejahtera dan menjelajahi dunia.

Warga menikmati kelapa hijau di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Rabu (10/8/2022).
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Warga menikmati kelapa hijau di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Rabu (10/8/2022).

Artikel ini bersumber dari : www.kompas.id.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari GajiPekerja.com di Google News