GajiPekerja.com

Informasi Gaji Pekerja Indonesia!

2 Oktober 2022

Jumat , 09 Sep 2022, 15:00 WIB
Rep: cermati.com/ Red: cermati.com

Cermati | Foto: Cermati

Freelancer atau bisa juga disebut sebagai pekerja lepas adalah jenis profesi di mana seseorang menawarkan sebuah layanan atau jasa pada sebuah perusahaan ataupun lebih. Seorang freelancer mampu mengambil banyak pekerjaan atau proyek dari berbagai klien sekaligus dan mendapatkan fee atau penghasilan ketika berhasil menyelesaikannya.

Dengan sistem kerja yang fleksibel, tidak terikat kontrak, dan bisa dijalani dengan tingkat stres yang lebih mudah dikontrol membuat profesi ini kian digandrungi banyak orang. Bahkan, jika telah mempunyai banyak koneksi dan mampu menerima jenis pekerjaan dengan tingkat skill tinggi, bukan tidak mungkin penghasilan seorang freelancer melebihi pekerja tetap.

Namun, berbeda dengan karyawan kantoran, menjadi seorang freelancer memiliki satu kekurangan khusus, yaitu harus menyiapkan sendiri perlindungan terhadap finansialnya. Hal ini karena pekerja lepas tidak mendapatkan tunjangan asuransi atau perlindungan lain selayaknya pekerja tetap perusahaan.

Kondisi tersebut membuat para freelancer harus memahami akan pentingnya memiliki dana darurat guna mengantisipasi terjadinya keadaan darurat di masa mendatang. Nah, bagi yang berprofesi sebagai seorang freelancer dan ingin tahu lebih lanjut tentang pentingnya memiliki dana darurat, cara hitung, dan tips mengumpulkannya, simak penjelasan berikut ini.

Baca juga: 8 Kesalahan yang Paling Sering Dilakukan Freelancer

 

Pentingnya Memiliki Dana Darurat untuk Freelancer

dana darurat

Dana Darurat

Pada perencanaan keuangan, dana darurat harus selalu menjadi salah satu prioritas utama. Hal ini dikarenakan ada banyak risiko yang mungkin terjadi di masa depan yang mampu membahayakan kondisi keuangan. Risiko yang dimaksud tersebut meliputi pelunasan biaya kesehatan, melakukan renovasi rumah, mencukupi kebutuhan sehari-hari saat tidak ada penghasilan, dan berbagai macam kebutuhan insidental lain.

Pada prinsipnya, dana darurat memiliki fungsi yang tidak jauh berbeda dengan perlindungan dari produk keuangan seperti asuransi. Hanya saja, penggunaannya bisa lebih universal dan menyeluruh, tergantung dari risiko atau masalah finansial yang tengah dihadapi.

Karena fungsinya tersebut, dana darurat ini wajib dipersiapkan pertama kali sebelum melakukan investasi, menabung, atau mengajukan asuransi sekalipun. Barulah dengan begitu kondisi keuangan menjadi lebih terjaga dan kondusif walaupun diterpa masalah finansial mendesak secara mendadak.

Khususnya bagi freelancer yang lebih berisiko kehilangan sumber penghasilannya karena tak terikat kontrak kerja dengan pihak mana pun, kepemilikan dana darurat ini tidak boleh diganggu gugat. Nominal dana darurat yang perlu disiapkan pun relatif lebih besar ketimbang pekerja tetap karena tingginya risiko tersebut. Jadi, pastikan telah mengumpulkan pos keuangan ini terlebih dulu sebelum memutuskan untuk memenuhi kebutuhan lain yang kurang mendesak.

Baca juga:  Cara Mengajukan Pinjaman Tanpa Agunan, Khusus Freelancer

Cara Menghitung Kebutuhan Dana Darurat untuk Freelancer yang Ideal

Perhitungan dana darurat pada dasarnya didasarkan dari sejumlah hal dan faktor tertentu. Beberapa di antaranya adalah status pernikahan, jumlah tanggungan, seperti anak dan orang tua, besarnya pengeluaran tiap bulan, dan juga pola pendapatan. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, kamu selaku freelancer mampu mengetahui dengan lebih akurat terkait berapa besar dana darurat yang seharusnya dikumpulkan.

Secara umum, berikut adalah kisaran besaran dana darurat yang harus terkumpul berdasarkan dari beberapa faktor yang telah dijelaskan di atas.

  • Berstatus lajang dan tak mempunyai tanggungan, dana darurat yang harus terkumpul setidaknya setara 6 kali pengeluaran tiap bulan.
  • Jika telah berkeluarga dan memiliki tanggungan pasangan serta 2 orang anak, dana darurat yang harus terkumpul setidaknya setara 9 kali pengeluaran tiap bulan.
  • Sementara untuk keluarga besar dengan tanggungan lebih dari 4 orang, maka dana darurat yang harus terkumpul setidaknya setara 9 sampai 12 kali pengeluaran tiap bulan.

Baca juga: Jangan Bingung, ini 5 Cara Menentukan Harga Ideal untuk Freelancer

Menghitung Dana Darurat Berdasarkan Profil Risiko

dana darurat untuk freelancer

Dana Darurat untuk  Freelancer

Untuk yang telah berkeluarga, nominal persis dari dana darurat secara umum bergantung dari risiko yang dapat ditanggung dan ditoleransi, atau bisa juga disebut sebagai profil risiko. Terdapat 3 jenis profil risiko yang umumnya dimiliki oleh seseorang, yaitu konservatif atau risiko rendah, moderat atau risiko menengah, agresif atau risiko tinggi.

Makin rendah profil risiko yang dimiliki, artinya makin besar pula nominal dana darurat yang harus dikumpulkan. Tujuannya, agar dapat merasa lebih terlindungi dalam menghadapi situasi atau masalah keuangan yang tak terduga. Di sisi lain, jika mempunyai profil risiko yang agresif, tidak ada salahnya mengumpulkan dana darurat dengan nominal yang kecil asal tetap diperhitungkan dengan risikonya.

Pada dasarnya, dana darurat tidak bisa dianggap sebagai uang hilang atau anggaran yang harus dibayar tiap tahun. Melainkan, dana tersebut mirip dengan tabungan yang wajib dimiliki setiap waktu. Jika tidak digunakan pada tahun ini, pos keuangan tersebut bisa digunakan untuk tahun mendatang.

Sebagai contoh, dana darurat yang telah terkumpul saat ini mencapai 12 juta dan tak ada masalah keuangan yang memaksamu untuk menggunakannya. Di tahun selanjutnya, kamu tak harus menambahkan pos keuangan tersebut lagi hingga nilainya menjadi 2 kali lipat atau 24 juta. Melainkan, nominal yang harus dimiliki tetap berjumlah 12 juta, kecuali ada perubahan terhadap jumlah pengeluaran bulananmu.

Tidak hanya itu, dana darurat juga bisa dipenuhi dan dikumpulkan secara bertahap seiring berjalannya waktu. Tergantung dari jumlah dana yang bisa disisihkan tiap bulan, kebanyakan orang mampu mengumpulkan pos keuangan ini dalam kurun waktu sekitar 1 hingga 2 tahun. Jadikan, pos keuangan tersebut sebagai prioritas hingga nominal dana yang harus terkumpul berhasil tercapai.

Baca juga: Freelancer Juga Bisa Punya Kartu Kredit, Begini Caranya!

Contoh Perhitungan Dana Darurat untuk Freelancer

Agar lebih mudah memahami cara menghitung dana darurat, simak contohnya dari ilustrasi berikut ini.

  1. Contoh Hitung Dana Darurat untuk Lajang

    Kamu adalah seorang karyawan tetap yang masih lajang dan belum mempunyai anak. Mempunyai tempat tinggal sendiri, rata-rata pengeluaran per bulan yang dimiliki adalah Rp5 juta. Berdasarkan informasi tersebut, berikut adalah cara hitung dana darurat yang perlu dikumpulkan setara dengan 6 kali pengeluaran tiap bulan. Maka, dana darurat yang perlu dimiliki adalah 30 juta untuk memenuhi 6 kali pengeluaran tiap bulan.

  2. Contoh Hitung Dana Darurat untuk yang Berkeluarga

    Kamu adalah seorang karyawan dengan pemasukan bersih sebesar Rp10 juta yang telah berkeluarga dan mempunyai 3 orang tanggungan, yakni seorang pasangan serta 2 orang anak. Setelah mengetahui kondisi keuangan, diketahui cashflow yang dimiliki adalah sebagai berikut.

    Jenis PengeluaranJumlah
    Kebutuhan PokokRp5.000.000
    Cicilan MobilRp2.000.000
    Tabungan dan InvestasiRp3.000.000

    Mengacu dari cashflow tersebut, bisa diketahui jika penghasilan bersih sama sekali tak bersisa karena segala kebutuhan. Padahal, sebagai seseorang yang telah berkeluarga dan memiliki tanggungan 2 anak, kamu perlu memiliki dana darurat dengan nominal setara 6 sampai 9 kali pengeluaran bulanan. Maka, jumlah dana darurat yang perlu dikumpulkan ialah sebesar Rp63 juta.

    Agar pos keuangan tersebut bisa terkumpul, alihkan dulu alokasi dana tabungan dan investasi untuk kebutuhan ini sekitar 21 bulan. Baru saat dana darurat sudah disiapkan, kamu bisa kembali mengalokasikan cashflow tersebut pada tabungan serta investasi kembali. Hal yang terpenting adalah keuangan telah terlindungi dari berbagai macam risiko masalah finansial dengan adanya dana darurat ini.

Wadah yang Optimal Dijadikan Sarana Mengumpulkan Dana Darurat

Ketika mengumpulkan dana darurat, salah satu wadah yang optimal untuk dipilih adalah instrumen investasi. Dengan memanfaatkan produk keuangan ini, dana darurat bisa terus bertambah seiring berjalannya waktu dan tak tergerus inflasi.

Sebelum memilih produk investasi, ada baiknya untuk memperhatikan 3 hal ini terlebih dulu, yaitu:

  • Kemudahan untuk mengakses dana
  • Tingkat likuiditas
  • Tingkat keamanan produk investasi

Karena perlu digunakan sewaktu-waktu dibutuhkan, dana darurat harus disimpan pada produk yang sifatnya likuid agar mudah dicairkan. Selain itu, hindari memilih instrumen yang memiliki tingkat risiko tinggi. Sebab, nilainya bisa berkurang dan cenderung terlalu berisiko jika digunakan sebagai penopang keuangan.

Beberapa rekomendasi instrumen investasi untuk mengumpulkan dana darurat, antara lain, tabungan atau rekening, deposito, emas, dan reksa dana berisiko rendah seperti RD pasar uang atau RD pendapatan tetap. Kamu juga bisa membagi sebagian dana darurat tersebut ke beragam wadah sekaligus dengan proporsi tertentu sesuai pertimbangan.

Baca juga: Rekrut Freelancer Bisa Bikin Bisnis To The Moon, Begini Caranya

Jadikan Dana Darurat Sebagai Prioritas agar Keuangan Terlindungi

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dana darurat seharusnya menjadi pos keuangan yang lebih diprioritaskan ketimbang investasi ataupun asuransi. Alasannya karena dana darurat bisa digunakan untuk mengantisipasi berbagai masalah finansial yang mungkin terjadi di masa mendatang dengan lebih fleksibel. Jadi, keuangan pun lebih terlindungi dan tidak rentan collapse saat diterpa masalah mendesak sekalipun.

 

Disclaimer:
Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan Cermati.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Cermati.com.

Artikel Lainnya

Artikel ini bersumber dari : www.republika.co.id.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari GajiPekerja.com di Google News