GajiPekerja.com

Informasi Gaji Pekerja Indonesia!

8 Oktober 2022

”Kalau dulu saya sebagai kurir, belum pulang sebelum habis barang. Itu saya ingat kali pak,” ujar Muhammad Rasul menyebut slogannya dalam bekerja.

Laporan: Zulkifli Ali (Pekanbaru)

MUHAMMAD Rasul sudah berkarier selama 17 tahun di PT Titipan Kilat (TIKI) Riau. Ia mulai sebagai kurir. Dan kini sudah naik pangkat. Dipercaya sebagai koordinator.

Jelas pencapaian tersebut tidak mudah dilaluinya. Perlu kerja keras, semangat, dan juga teladan. Dan tentang semua itu, bapak dua anak ini mantap menyebut satu nama menjadi panutan. Juga bagi rekan-rekannya.

”Beliau sangat-sangat jadi panutan. Dari pengalaman, arahan, masukan, semua sangat bermanfaat bagi kami. Sebagai tim, baik itu di ground, kurir, incoming, pick up, wrapping,” ujar Rasul lagi.

Yang dimaksud Rasul adalah sosok bersahaja yang berada di sampingnya. Saat itu, Senin (15/8/2022), Rasul ikut nimbrung dalam sesi wawancara dengan ”pejuang” satu ini, yang menjadi narasumber utama Riaupos.co.

Sejak lahir namanya satu kata. Sumiyatno. Kini, harus ditambah satu kata lagi karena sudah naik haji. Jadi lengkapnya, Haji (H) Sumiyatno. Kado dari perusahaan berkat pengabdian dan prestasinya.

‘‘Hadiah yang tidak pernah saya bayangkan,’’ kenangnya.

Pria kelahiran 20 Mei 1965 di Desa Paitan, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah ini, tidak sia-sia merantau jauh. Setelah bekerja keras dan tunak lebih kurang lima belas tahun, di usia 41 tahun, dipercaya sebagai Manajer Operasional TIKI Riau.

Soal kesuksesan Pak Yatno, begitu ia biasa dipanggil para stafnya, terlihat sungkan mengakuinya. Ini menunjukkan ia sebagai pimpinan yang low profile.

Baginya, kesuksesan itu bukan jadi urusan dia. Itu menjadi domainnya pimpinan perusahaan. Selain itu, kesuksesan mesti juga menjadi milik para karyawan. Berkat kerja sama dan dukungan semua yang terlibat. Selama jadi salah satu pimpinan ia mengaku selalu melibatkan para stafnya dalam banyak hal.

”Sukses bukan untuk pribadi saya, lebih ditujukan untuk kebersamaan. Yang mengatakan sukses itu bukan diri saya. Tapi dari perusahaan,” jelasnya memberi alasan.

Apalagi, dalam bekerja dia tidak pernah memikirkan hal itu. Yang penting baginya semua pekerjaan beres dan tepat waktu.

”Yang penting jangan kecewakan pelanggan dan perusahaan,” tegasnya.

Yatno muda menginjakan kakinya di Kota Bertuah (julukan Kota Pekanbaru) pada 1987. Di usia yang sangat energik, 22 tahun. Musababnya memilih kota minyak ini simpel saja; ikut saudara sekampung.

Secara akademis, Yatno hanya berbekal selembar ijazah SMP. Sementara dari segi skill, ia memiliki pengalaman lumayan sebagai buruh bangunan.

Tapi semangatnya untuk survive di perantauan harus dipuji. Oleh sebab itu ia melakukan apa saja. Kerja serabutan.

”Yang penting tak merugikan orang dan halal untuk kita,” kenang Yatno, yang ditemui di ruang kerjanya.

Yang utama tentu saja menjadi buruh bangunan di siang hari. Lebih kurang empat tahun ia lakoni pekerjaan tersebut.

”Saya juga jaga malam di Warehouse PU,” ujarnya lagi.

Dan pada akhirnya, ia pun dipertemukan dengan TIKI Riau, franchise TIKI Pusat. Perusahaan jasa pengiriman yang legendaris itu. Pada 1991.

Namun perkenalan pertama tersebut baru sebatas informasi lowongan kerja. Sebagai kurir. Dia paham arti kata dari posisi dalam lowongan kerja itu. Baginya tak masalah.

Tanpa pikir panjang, Yatno lajang pun melamar. Ketika itu masih berkantor di satu ruko, di blok pertokoan Jalan Imam Bonjol, kawasan Pasar Pusat, Pekanbaru.

”Tak pakai tes. Cukup fotokopi ijazah, pasfoto dan KTP,” ujar anak kelima dari tujuh bersaudara ini.

Ketika itu Yatno sudah memiliki kartu tanda penduduk (KTP) Kota Pekanbaru. KTP jadul berwarna kuning. Tak ribet membuatnya saat itu.

TIKI Riau berdiri pada 23 Maret 1973. Hampir tiga tahun setelah Soeprapto Soeparno (almarhum) dan Nuraini Soeprapto mendirikan TIKI pada 1 September 1970. Selang setahun setelah diperkuat oleh Irawan Saputra (almarhum), Gideon Wiraseputra dan Raphael Rusmadi pada 1972.

TIKI Riau dibangun oleh Darul Arief (almarhum). Dan kini diwarisi oleh putranya, Didi Winarsyah.

Pada 1991, kisah Yatno lagi, TIKI Riau baru memiliki 10 karyawan. Termasuk di antaranya dua kurir saja. Sekarang sudah di-back up oleh 80 karyawan dengan 15 di antaranya kurir.

Meski baru bergabung Yatno muda sepertinya makin percaya diri. Maka tiga bulan kemudian, dia pun menikahi Sartun. Istrinya kini. Lagi pula, umurnya sudah mulai matang. Bisa jadi pernikahan itu membuat dia semakin semangat. Buktinya, jaga malam di gudang PU kasih ia jalani.

Tugas pokok Yatno adalah antar jemput barang kiriman. Tapi karena masih terbatas karyawan, ia juga merangkap kerjaan di bagian Incoming. Menerima barang masuk, menyortirnya dan lain-lain.

Jadwal kerjanya start pukul 08.00 WIB, mengantar barang keliling kota. Khususnya kiriman untuk rumah tangga dan perusahaan-perusahaan. Menggunakan sepeda motor.

Pada tengah hari, ia pun balik ke kantor. Lalu mengemas barang-barang yang baru masuk. Lebih kurang sejam kemudian beraksi kembali mengantar barang.

Sedang tugas pikup (menjemput kiriman) dari konsumen dia lakukan di waktu petang. Sekitar pukul 17.00 WIB sampai selesai.

Soal suka duka Yatno mengaku ada. Tapi baginya lebih banyak happy-nya. Ia pernah terjatuh dari motor saat mengantar barang. Ia juga pernah mengalami bocor ban motor. Dan juga kehujanan.

‘’Tapi saya merasakan banyak happy-nya. Banyak jalan, kenal orang-orang. Apalagi kalau sudah diantar semua, rasanya plong sekali,’’ ungkap Yatno.

Kerja keras baginya sudah biasa. Maka dia tetap fokus dalam menyelesaikan tanggung jawabnya. Dia juga tidak terlalu mempersoalkan batasan jam kerja. Baginya tidak ada jam pulang kantor tetap. Yang penting semua tugas selesai. Tidak ada yang ditunda.

Itulah salah satu prinsip kerja yang pegang.

“Jam kerja ada. Tapi saya tak hitung-hitung waktu kalu kerja,” jawabnya kepada Riaupos.co.

Lalu, apakah tidak ada keluhan dari istri, atau keluarga? Yatno menjawab di awal-awal dulu memang ada. Tapi tidak lama. Setelah dijelaskan, istri memaklumi tugas dan cara kerjanya.

Mungkin yang dikhawatikan istri, lanjut Yatno, bukan jam kerja. Lebih kepada keselamatan dirinya. Atau tidak ingin dirinya pergi ke tempat lain di sela-sela kerja atau setelah jam kantor usai.

”Saya tidak begitu. Saya lebih suka kembali ke kantor setelah selesai mengantar barang,” jelas bapak tiga anak ini.

Lewat prinsip, perilaku dan kinerjanya, Yatno benar-benar menjadi pejuang garda terdepan perusahaan. Tentu saja tanpa mengerdilkan kontribusi yang lain. Itu dilaluinya lebih kurang dari dekade.

Ia mengaku masih betah plus merasa enjoy dengan posisi tersebut. Makanya ia beberapa kali menolak permintaan pimpinan untuk tidak dinas luar lagi (kurir). Namun pada akhirnya ia tidak bisa bertahan. Ia didaulat menjadi koordinator. Dengan kata lain jam kerjanya lebih banyak di dalam kantor.

Tugas sebagai koordinator secara umum menangani barang masuk (incoming) dan dan barang-barang yang akan dikirim keluar (outgoing). Selain itu juga mengurus komplain pelanggan.

Jabatan baru itu diperankan Yatno dengan tanggung jawab. Sama halnya ketika masih sebagai kurir. Namun di sini ia merasa mendapatkan cobaan terberat.

Ia mendapat ancaman kekerasan dari pelanggan. Sebab si pelanggan tidak terima sampul dokumen untuknya basah.

Si pelanggan pun tidak mau menerima dokumen tersebut. Ia bertahan sampai sepekan. Selain datang langsung, dia juga mempersoalkan itu lewat saluran telepon.

Yatno tetap telaten meladeni si pelanggan. Apalagi menurutnya, bagian sampul dokumen yang basah sedikit saja. Isinya tidak basah. Tak banyak yang bisa dia lalukan. Pegangannya SOP (standard operating procedure) perusahaan. Sabar terus menjelaskan dengan alasan yang sama. Basah karena hujan. Saat dipindahkan dari bagasi pesawat ke gudang kargo.

”Itu yang terberat, karena jadi beban pikiran sehingga terbawa pulang. Tapi saya anggap itu bagian dari tanggung jawab saya sebagai koordinator,” ungkap Yatno.

Sebagai manajer operasional ia memimpin langsung sekitar 50 karyawan. Kini menempati kantor di Jalan Rambutan II, Kelurahan Sidomulyo Timur, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru. TIKI Riau memiliki empat station dengan dukungan ratusan gerai.

Yatno senior telah menjelma sebagai komandannya para pejuang terdepan TIKI. Pengalaman, masukan, dan nasihatnya telah memotivasi dan menginspirasi Muhammad Rasul, dan ‘’Rasul-Rasul’’ lainnya.

Pada Mei 2023, H Sumiyatno memasuki masa pensiun di usia 58 tahun. Dia bisa bahagia mengakhiri masa baktinya. Begitu juga bagi TIKI Riau. Pewarisnya pun telah siap mengemban tugas yang ditinggal.

‘’Karena tujuan kurir itu kan amanah orang. Jadi kita harus sampaikan ke konsumen segera. Jangan sampai dilalaikan. Jangan sampai menunda-nundanya,’’ ujar Rasul mengenang ujaran sang mentor; H Sumiyatno.***





Artikel ini bersumber dari : riaupos.jawapos.com.

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari GajiPekerja.com di Google News